Sekarang saya masih seorang perokok. Tentu ini tak berarti saat menulis posting ini saya sedang merokok--seseorang toh disebut perokok bukan karena saat itu dia sedang merokok, tapi karena dia biasanya merokok. Dan hingga saat ini, saya biasanya memang merokok. Tapi saya akan segera berhenti menjadi perokok. Tulisan ini saya pajang di sini agar saya merasa seluruh dunia mengawasi ketaatan saya pada tulisan dan kata-kata saya sendiri--saya sebut "merasa" karena saya tak yakin benar ada yang membaca blog ini, ah, tapi yang penting kan perasaan. :)
Sudah banyak tulisan tentang berhenti merokok, mulai artikel ilmiah, imbauan, nasihat, hingga testimoni (salah satunya di sini). Anda bisa mendapatkannya di mana-mana. Lalu, kenapa mesti ada satu tulisan lagi? Ya nggak apa-apa 'kan. Lagi pula, ini sekadar tulisan iseng-iseng, bukan artikel ilmiah, ajakan, imbauan, atau nasihat. Tulisan ini terutama bukan tentang kenapa saya berhenti merokok, tapi perihal kenapa baru sekarang saya akan berhenti merokok. Saya akan bercerita mengenai alasan-alasan konyol, wagu tur kere macam apa yang saya gunakan selama ini untuk "membela" kebiasaan saya merokok.
Saya tak yakin betul kapan tepatnya pertama kali merokok. Samar-samar saya ingat menghisap asap tembakau perdana saat MTs (fyi. itu sekolah setingkat SMP). Saya sudah lupa seperti apa rasanya. Tapi saya menjadi perokok--merokok secara rutin dan menikmatinya--sejak pertengahan kelas satu MA (lagi-lagi fyi. itu sekolah setingkat SMA). Sejak itu saya menjadi perokok aktif dalam arti sebenarnya (aktif menghisap asap rokok sendiri, bukan penghisap pasif asap rokok orang lain, juga aktif membeli rokok sendiri, bukan pasif dan hanya minta rokok teman hehe..). Kalau dihitung-hitung, kurang lebih sudah sebelas tahun secara rutin saya memasok tar dan nikotin ke dalam tubuh. Meskipun rutin, tentu intensitas konsumsi rokok saya tak selalu sama, tergantung mood serta situasi dan kondisi keuangan.
Semula saya tak pernah benar-benar berpikir kenapa saya merokok. Saat itu, merokok bagi saya sama wajarnya dengan makan nasi dan membeli permen atau gorengan. Sejak kuliah baru saya mulai berpikir tentang hal itu ketika ada beberapa kawan yang bertanya "kenapa sih kamu ngerokok?" atau "apa sih enaknya ngerokok?" atau "apa sih untungnya ngerokok?". Tambahan lagi, saya sering terperangkap dalam obrolan sok-sok serius bersama beberapa kawan tentang pengaruh pencitraan iklan dan media terhadap persepsi orang--yang selalu mengambil contoh utama rokok, pernah membaca sebuah terbitan pers mahasiswa mengenai rokok, pernah melihat aksi kampanye antirokok yang diadakan mahasiswa-mahasiswa kedokteran lengkap dengan selebaran berisi gambar paru-paru yang jadi mengerikan--konon--karena rokok, pernah menjadi responden penelitian seorang teman tentang rokok, dan kerap membaca tulisan di koran dan di mana-mana mengenai bahaya rokok, bahkan sekali secara kebetulan ketemu artikel di jurnal ethics entah edisi berapa, yang sekarang cuma saya ingat judulnya: "the ethics of smoking".
Semua yang saya sebut tadi membuat saya kadang-kadang berpikir perihal rokok--tidak terlalu serius tentu saja--sebab, ya itu tadi, merokok tetap mirip-mirip makan nasi dan beli permen atau gorengan. Lha kok bisa? Begini ceritanya.
Biasanya, imbauan dan nasihat untuk berhenti merokok disertai alasan-alasan ini. Pertama, rokok merugikan kesehatan. Ya, rasanya semua orang sudah tahu hal ini, meski tak selalu percaya. Toh di bungkus-bungkus rokok yang resmi dan bercukai selalu ada tulisan: "Peringatan Pemerintah: Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin". Selain itu, di koran, tv, radio, poster, selebaran, situs web, dan entah di mana lagi, Anda bisa dengan mudah menemukan informasi mengenai bahaya rokok.
Mau tahu apa "kontra-argumen" saya untuk poin satu ini. Kita mulai dari yang sok filosofis dulu.
Segala sesuatu di dunia ini mengandung risiko. Bahkan hidup itu sendiri adalah risiko. Orang makan enak bisa kelebihan kolesterol; orang naik motor bisa jatuh atau tabrakan; lha orang jalan kaki itu lo, bisa kepleset! Jadi, kalau merokok menyebabkan penyakit, ya itu risikonya. Kalau Anda memang menikmati rokok, tahu risikonya, dan menurut Anda risikonya sepadan dengan kenikmatan yang Anda peroleh, apa salahnya? Ya, toh? (Seorang kawan yang tak kalah wagu tur kere dari saya kadang menambahkan: Masyarakat kontemporer yang ditandai globalisasi ini sering disebut risk society oleh para sosiolog; jadi, ya, pas.)
Bagaimana? Benar-benar nggak mutu 'kan? Ya, kecuali Anda memang mau bunuh diri karena tidak bisa membedakan jenis dan tingkatan risiko yang kadang bisa dikendalikan atau diminimalkan. Saya sendiri tidak tahu detailnya bagaimana rokok bisa merusak kesehatan. Saya bukan dokter dan tak pernah baca buku-buku kesehatan. Ada beberapa tetangga saya di desa yang sudah merokok sedari muda, dan setua itu masih kelihatan sehat-sehat saja. Tapi dalam penalaran awam saya, saya tahu merokok memang bisa mengganggu kesehatan karena kadang-kadang, kalau saya benar-benar kebanyakan merokok, saya batuk dan sesak nafas.
Mau yang lebih kere lagi? Jangan khawatir, masih ada. Inti kontra-argumen tadi, meskipun memang mencampur-adukkan berbagai jenis dan tingkatan risiko, sebenarnya adalah pada pilihan bebas individu. Saya ingat, dulu, di UKM (unit kegiatan mahasiswa) tempat saya biasa nongkrong pernah ada poster imbauan berhenti merokok lengkap dengan penjelasan bahayanya. Saya dan beberapa perokok lain iseng-iseng membuat poster saingan dan menempelkannya di sebelah poster antirokok itu. Kalau saya tak salah ingat begini poster yang digarap asal-asalan dengan corel draw itu:
Ada gambar bumi yang penuh sesak, lalu di sampingnya ada tulisan, "Dunia sudah terlalu penuh; sumberdaya alam tak lagi memadai untuk kita semua; jadi, relakan tempat Anda untuk orang lain. Bunuh dirilah dengan merokok!" Lalu di sudut kanan bawah poster kertas A4 itu tertera gambar rokok tanpa silang dengan tulisan kecil di bawahnya: "Komunitas Merokok untuk Kemanusiaan".
Barangkali Anda berpikir tak mungkin ada yang lebih kere tur wagu lagi. Anda salah. Masih ada! Seorang kawan yang sok-sok aktivis pergerakan (hehe... sori, Ton) pernah gojek kere begini:
"Yang seharusnya mengeluarkan peringatan soal rokok itu dokter, bukan pemerintah. Jadi, kalau di bungkus rokok ada peringatan pemerintah itu sifatnya politis, harus kita lawan!!!"
Jangan menyimpulkan dulu! Masih ada yang lebih parah. Kali ini malah bersifat seksual:
"Salah satu efek rokok, seperti tertera pada bungkusnya, adalah menyebabkan impotensi. Nah itu dia! Saya merokok untuk menormalkan diri. Kalau saya tidak merokok, bisa bahaya..."
Alasan kedua yang biasanya menyertai imbauan berhenti merokok adalah: rokok itu boros secara ekonomis. Daripada buat beli rokok--yang kalaupun tidak mematikan, sedikitnya tak jelas benar apa guna dan untungnya--mending uang yang tersedia digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat. Begitu kira-kira argumennya.
Tentang poin kedua ini saya teringat beberapa hal. Saya punya seorang kawan mantan perokok. Orangnya tidak neko-neko: tidak suka makan enak dan mahal, tidak suka belanja, tidak suka beli baju, dan belum menikah, apa lagi punya anak :) Di samping beberapa hal lain yang tidak semestinya di sebut di sini, kesukaannya hanya rokok. Suatu kali, saat berbincang soal rokok, dengan guyon dia berkata pada saya:
"Lah, senenganku ki muk siji kuwi, mosok gak oleh. Terus gajiku kae arep dinggo opo?" (Alah, kesukaanku kan cuma satu itu; masak nggak boleh. Terus gajiku mau dibuat apa?)
Untunglah dia sekarang sudah berhenti merokok meski--sayangnya--masih juga belum menikah.
Saya tahu--karena pernah nonton di tv--ada banyak kasus gizi buruk pada anak-anak disebabkan orangtuanya lebih memilih membeli rokok ketimbang membeli makanan untuk anak-anaknya. Ini tentu saja hal yang buruk dan tidak bertanggung jawab (don't try this at home!). Tapi tak enak rasanya menuliskan hal macam itu di posting gojek kere seperti ini.
Tapi aspek ekonomis merokok bukan soal menikah atau belum menikah, punya anak atau tidak punya anak. Saya teringat sebuah adegan lawakan--kalau tak salah--Srimulat yang duluuu sekali pernah saya tonton.
Seorang pasien sambil terbatuk-batuk masuk ke ruang praktik dokter. Setelah ngobrol sana-sini, tempelkan stetoskop sana-sini, sang dokter (D) bertanya, "Sudah berapa lama Bapak ngerokok?" Pasien (P) itu menjawab, "Kira-kira 25 tahun, Dok." D: "Sehari habis uang berapa?" P:"Ya, paling sedikit lima ribu." D: (sambil geleng-geleng) "Kalau uang yang Bapak pakai ngerokok sejak dulu dikumpulkan, Bapak pasti sudah punya sedan mewah seperti itu" (sambil menunjuk sebuah mobil yang kelihatan dari jendela ruang praktik). P: "Tapi, Dok, itu memang mobil saya."
Mungkin ada yang berpikir, asalkan kewajiban ekonomis sudah terpenuhi kenapa kita tidak boleh menikmati--termasuk dengan merokok--penghasilan yang kita dapat dengan kerja keras. Ya, tentu saja boleh. Tapi saya teringat sebuah tulisan Cak Nun, entah di mana saya membacanya. Saya lupa persisnya, ini saya kutip sekenanya saja:
Memelihara anjing memang boleh. Tapi, memelihara anak yatim bukan hanya boleh, tapi jauh lebih berguna dan mendapat pahala.
Halah... kok jadi serius.
Alasan ketiga yang juga biasanya disertakan dalam anjuran tidak merokok: merokok itu mengganggu dan merugikan orang lain. Untuk kasus orangtua perokok yang mengabaikan anak-anaknya demi rokok sudah saya singgung tadi. Namun, hal yang lazimnya dimaksudkan ketika menyebut perokok merugikan orang lain adalah "perokok pasif". Sebutan ini mengacu pada orang-orang di sekitar perokok yang turut mengisap asap rokok yang dihasilkannya. Konon risiko yang mereka tanggung lebih besar dari si perokok lho.
Untuk hal ini, bahkan sejak dulu, ketika saya belum berniat berhenti merokok pun saya sangat setuju. Karena itu saya tak pernah merokok di suatu tempat di mana ada orang lain sebelum minta izin (kalau dia menolak, saya tidak jadi merokok atau saya menjauh dulu untuk menghabiskan rokok) atau dia juga sama-sama perokok. Seingat saya, saya tak pernah merokok di kendaraan umum, di warung atau ruangan yang penuh orang, dan tempat-tempat sejenis.
Tapi ada juga orang yang dengan santai merokok di antara banyak orang bukan perokok tanpa meminta izin lebih dulu. Barangkali mereka berpikir, ah, jangan mentang-mentang nggak ngerokok dong. Hmmm... sungguh logika yang wagu dan ter.. la.. lu..
Alasan keempat yang juga kerap disebut adalah: rokok tidak baik menurut agama (fyi. agama saya Islam). Ada yang bilang makruh, ada juga yang bilang hukumnya haram. Tak perlu lah saya paparkan soal itu di sini. Pas ramai-ramainya fatwa MUI soal rokok kemarin sudah sangat banyak yang membahasnya.
Tentu masih ada alasan-alasan lain, macam kapitalisme industri rokok, penguasaan saham pabrik-pabrik rokok oleh pemodal asing, bla... bla.... Tapi kalau disebutkan semua, bisa terlalu panjang posting iseng-iseng ini. Ini pun sudah kepanjangan.
Secara pribadi, saya tetap menghormati orang-orang yang merokok--asal jangan merokok di tempat umum di mana ada orang yang bukan perokok. Meski begitu, harus ada upaya kelembagaan (oleh negara, misalnya) untuk secara bertahap mengurangi konsumsi rokok dan jumlah para perokok. Ada banyak tetek bengek yang bakal ramai diperdebatkan: lapangan kerja bagi petani tembakau dan karyawan pabrik rokok, sumbangan rokok untuk pendapatan negara, bla... bla... bla... tapi tentu saja itu semua di luar jangkauan tulisan iseng-iseng macam ini.
Jadi, karena saya masih kerasan hidup di planet yang sudah sangat sesak ini, dan meskipun tidak sangat ingin punya sedan mewah tapi juga tidak mau memelihara anjing (hubungane opo?), akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi menjadi perokok. Bungkus rokok terakhir saya, lengkap beserta koreknya, sudah saya buang, tapi tidak asbaknya--saya tak ingin kawan-kawan saya yang perokok mengotori lantai kamar saat berkunjung.
Oiya, dengar-dengar cukai rokok bakal naik. Harga rokoknya juga pasti naik. Selamat lah...
baca selengkapnya...
|
Labels:
corat-coret,
iseng-iseng,
sampah segar