Layaknya tempat sampah, ruang ini juga berisi segala hal yang rusak, kadaluwarsa, busuk, dan tentu saja kemungkinan besar tidak berguna. Tempat sampah hanya memiliki dua manfaat: menjaga agar si empunya tetap bersih dan sehat serta menyediakan ruang bagi orang yang mau mencari-cari barang buangan yang masih bisa dipulung. Begitu pula, ruang ini barangkali bisa membuat saya tetap sehat dan semoga saja ada sesuatu yang bisa diambil di sini untuk didaur-ulang.
Untuk melihat sampah-sampah yang saya hasilkan dalam bahasa Inggris, silakan lihat di sini.
Tentang saya, si tukang sampah, lihat di sini.


13.8.09

Banerji dan Anak-anak



Pater Pancali oleh Banerji, alih bahasa Koesalah Soebagio Toer, Pustaka Jaya.


Sebenarnya ingin menulis "semacam" review tentang buku ini, tapi bukunya lagi pergi ke luar kota :) Jadi ya... sekarang kutipannya dulu (yang sempat terselamatkan saat saya hampir membacanya untuk yang kedua kali).





"Seorang ibu mencurahkan seluruh kecintaan dalam membesarkan anaknya, dan berabad-abad lamanya keajaiban tentang cinta ibu itu telah dinyanyikan dalam semua bahasa. Tetapi apakah yang diberikan oleh anak itu kepada ibunya tak ada artinya? Benarkah bahwa ketika anak itu datang, seolah-olah ia tidak membawa serta apa pun, padahal siapakah yang dapat memberikan nilai pada tawanya yang menawan hati ibunya itu, memberikan nilai kepada perubahan-perubahan selera yang bersifat anak-anak, memberikan nilai pada wajahnya yang tampak seolah-olah terbuat dari bulan, dan kekikukan usahanya untuk bicara? Semua ini merupakan kekayaannya dan ia mempertukarkannya dengan perawatan yang penuh cinta yang dilakukan oleh ibunya. Ia tidak datang kepada ibunya dengan tangan kosong seperti pengemis." (h. 56-7)

"Manusia mengadakan perjalanan. Dan kita tak punya pengertian tentang apa yang akan kita lihat di dalam perjalanan itu. Mata kanak-kanak itu besar, dan mata itu meneguk dunia sekeliling kita dengan penuh nafsu menelan segalanya. Cobalah pikirkan kesenangan yang kita peroleh itu karena kita pun adalah penyelidik dunia. Omong kosong bahwa kita mesti mengarungi seluruh dunia ini agar merasakan kegembiraan akan sesuatu yang tak kita ketahui. kita menyusuri jalan-jalan baru yang belum pernah kita tempuh sebelumnya. Kita mandi untuk pertama kali di sungai-sungai. Kita menyejukkan badan dalam angin yang bertiup di desa-desa yang baru. Apa urusannya itu dengan kita, kalau ada orang lain yang telah melakukannya sebelum kita? Untuk mata kita semua itu merupakan negeri yang belum ditemukan, dan hari ini untuk pertama kali kita merasakan kebaruannya di dalam hati, di dalam pikiran, dan dengan segala perasaan." (h. 205-6)

baca selengkapnya...
| 1 comments  
Labels: , ,

12.8.09

ternyata saya (pernah) jatuh cinta :)

Saat iseng membuka cd-cd berisi file-file lawas yang entah sudah berapa lama tertumpuk di wadah cd, secara acak saya membuka beberapa file. Ketika mengklik dua kali pada sebuah file berjudul "Tentang Seorang Teman Belajar", tiba-tiba muncul kotak dialog meminta saya mengisikan password.

Halah... apa ya isinya, kok dulu saya kasih password segala. Saya benar-benar sudah lupa apa isinya. Karena beberapa hari terakhir ini saya kebanyakan nonton berita terorisme, benak saya sudah mereka-reka kemungkinan paling spektakuler: data intelijen yang secara tak sengaja saya temukan, bukti sebuah kejahatan yang melibatkan tokoh-tokoh penting, formula untuk membuat bom berdaya ledak super, atau...

Hmmm... segala spekulasi itu bisa menunggu. Yang terpenting adalah mengingat password yang dulu saya isikan. Berbagai kata yang biasanya dulu saya pakai jadi password saya masukkan. Setelah beberapa kali keliru akhirnya file itu terbuka juga. Dan ternyata isinya...
ya jelas tidak seheboh yang saya bayangkan tadi hehe... tapi juga tidak semengecewakan seandainya saya hanya menemukan tugas kuliah atau catatan hutang.

Isinya adalah sisa-sisa masa muda (halah... sok tua!): sesuatu yang mirip--dan barangkali dulu memang dimaksudkan sebagai--puisi tentang cinta. Ealah... ternyata saya pernah jatuh cinta toh, pakai sok-sok jadi pujangga pula.

Terus kenapa "semacam" puisi cinta itu dipajang di sini? Ya gak papa to ya... blog blog saya ini :) Biar tempah sampah ini lebih berwarna, ada juga sampahnya yang berwarna merah jambu, meskipun sudah mulai memudar.

Nah ini dia "semacam" puisi itu:

Tentang Seorang Teman Belajar

Bersamamu,
Aku banyak belajar tentang hidup

Aku belajar bahwa hidup itu rumit:
tak selalu kupahami, tapi mesti kuhadapi
Bukan seperti buku-buku filsafat yang biasa kubaca:
tak sesederhana lukisan reduksionis,
tak tunggal layaknya dunia monis

Aku belajar bahwa nonton bola tak setolol membungkus air putih,
tentang orang yang makan soto dengan nasi terpisah
Juga bahwa mawar—yang berwarna pink sekalipun—bisa patah jika ditiduri,
dan mawar pink yang patah tak harus dibuang ke tempat sampah

Aku belajar bahwa di Parangtritis tak hanya ada pasir, ombak, bulan, dan bintang-bintang
tapi juga ada percakapan
mungkin juga cinta
Bahwa di Jakal tak hanya ada deretan warung dan swalayan
tapi ada pula perbincangan
bahkan juga cinta

Bersamamu,
Aku banyak belajar tentang hidup

Aku belajar bahwa hidup tak sendiri:
ada banyak orang tinggal di dunia yang sama
suka atau tidak suka
Mungkin Sartre mengutuknya, tapi tak bisa menolaknya

Aku belajar bahwa orang bisa jatuh cinta
yang indah,
tapi juga menyakitkan:
dua menyatu jadi sehelai kertas

Aku belajar bahwa cinta—seperti kata GM—menarik seseorang ke dalam hasrat bersatu, keinginan bertaut, memberi, dan mengharap
Dan juga memiliki
Aku bohong ketika dulu berkata cinta tak harus memiliki

Aku belajar bahwa hidup harus berbagi
termasuk juga cinta, mungkin
padahal manusia egois
karenanya ia sakit

Aku belajar bahwa kejujuran itu mulia
Tapi kita selalu punya rahasia:
dunia di mana kita bisa jadi diri sendiri

Aku belajar bahwa manusia mengenakan banyak topeng
yang beratnya membuat wajah tersenyum
atau menangis
tapi yang membuat hidup jadi mungkin

Bersamamu,
Aku banyak belajar tentang hidup

Aku belajar bahwa hidup itu sakit:
menyakiti atau disakiti
dengan atau tanpa disadari
Mungkin tak sesuram cerita Hobbes, tapi kelam

Aku belajar bahwa pengkhianatan itu menyiksa
meski juga nikmat: racikan rasa bersalah dan pedih
yang mewujud kenikmatan tak lazim—counterpleasure

Aku belajar bahwa manusia bisa luka
dan menikmati pedih
Tapi bukankah, katanya, malaikat pun merasa iri karenanya?—ini di film City of Angel

Bersamamu,
Aku banyak belajar tentang hidup

Aku belajar bahwa hidup adalah harapan
yang tak selalu jadi kenyataan
Bahwa hidup adalah impian
tapi yang butuh keberanian

Aku belajar bahwa hidup adalah paradoks:
hitam putih kerap menjelma abu-abu
Bahwa manusia dipenuhi kontradiksi
dan hidup sebagiannya adalah berdamai dengannya:
merayakan, mengolahnya jadi kemungkinan—yang ini kata HB

Bersamamu,
Aku banyak belajar tentang hidup
bersamamu, bukan darimu
karena guru adalah hidup itu sendiri.

PS: Terima kasih untuk "pembelajaran" ini,
yang tanpa SPP dan BOP.
semoga kita terus belajar bersama.

Krapyak,
minggu pagi yang sepi, 8 Juni 03

baca selengkapnya...
| 1 comments  
Labels: , ,

11.8.09

Mengukur Seberapa Tenar Diri Anda dengan Mesin Pencari?


Pernah iseng-iseng mencari nama Anda sendiri di mesin pencari atawa search engine? Kalau belum, cobalah sekali-kali . Lumayan untuk mengecek seberapa terkenal diri Anda di dunia maya. Kalau nama Anda tergolong pasaran tentu hasil pencariannya akan banyak sekali. Tapi jangan ge-er dulu, sebagian besarnya pasti bukan Anda. Sebaliknya, kalau nama Anda cukup unik, hasilnya mungkin tidak banyak tapi kebanyakan memang diri Anda.

Apa? Saya? Maksud Anda, apa saya pernah mencobanya? Hehe... tentu saja. Ketika sedang online dan tak jelas mau melakukan apa, biasanya iseng saya kambuh. Salah satu bentuknya ya itu: search nama sendiri. Hasilnya? Ya, lumayan lah. Tidak terlalu banyak memang, tapi karena nama saya sangat unik hampir semua hasilnya benar-benar tentang diri saya. Kalau dinilai dengan skala 1-10, keunikan nama saya bisa dapat skor 8 atau 8,5. Orangtua saya memang te-oo-pe dalam urusan ngasih nama hehe...

Saya tidak tahu apa model "tes ketenaran" macam ini memang bisa diandalkan dan hasilnya patut dibanggakan, tapi seorang teman yang namanya tak satu pun ditemukan oleh google berkomentar dengan sedikit bersungut-sungut: "Masak nama saya nggak ada!"

Nah, sekarang cobalah cari nama Anda. Seberapa terkenal Anda di internet?

baca selengkapnya...
| 2 comments  
Labels: , ,

8.8.09

Kambing Kedinginan?

Saya mendapat gambar ini beberapa hari lalu di sebuah stasiun kereta (saya lupa namanya) dalam perjalanan antara Banyuwangi menuju Jember. Lalu kenapa kambing ini mengenakan selimut? Apa dia kedinginan? :) Stasiun tempat kambing ini saya temukan memang cukup dingin karena terletak di daerah pegunungan.


baca selengkapnya...
| 2 comments  
Labels: , ,

30.7.09

Pikiran Iseng tentang Pikiran

Dalam bahasa apakah Anda berpikir?

Mungkin dahi Anda sedikit berkerut saat ditanya seperti ini. Lho, memangnya kita berpikir pakai bahasa tertentu ya? Saya nggak pernah tuh, berpikir tentang "berpikir", apa lagi yang pakai-pakai bahasa kayak gitu. Mungkin itu yang sekarang terlintas di benak Anda. Mungkin Anda akan segera menambahkan: ah, ada-ada saja! Apa gunanya sih?!

Hehe... santai saja. Ini memang (mungkin) tidak ada gunanya. Ya, namanya juga iseng-iseng: kalau berguna sukur, kalau nggak ya sukur juga :)

Berpikir itu seperti bernafas. Jarang sekali 'kan Anda sadar bahwa Anda sedang bernafas? Paling-paling kalau sedang batuk atau kena asma saja Anda memperhatikan betapa sangat seringnya Anda bernafas--saya tahu karena asma saya dulu sering kumat, sukur belakangan tidak lagi.

Atau, lebih samar lagi, seperti detak jantung. Yang ini pasti lebih jarang lagi Anda sadari. Anda baru memperhatikan detak jantung kalau tiba-tiba Anda berdebar atawa dag-dig-dug, entah karena kaget, takut, atau sangat gembira. Atau juga Anda jadi sangat peduli pada detak jantung ketika sedang terserang virus romantis dan asyik berpuisi: "kusebut namamu dalam setiap detak jantungku"--halah...

Mau dibandingkan dengan apa pun, berpikir itu memang berlangsung rutin, alamiah, dan biasanya sangat cepat: semacam kilasan-kilasan yang datang silih berganti--atau begitulah kira-kira yang saya alami (jangan terlalu menganggap serius cerita saya; sebab saya bukan pakar psikologi atawa neuroscience yang tau tetek bengek otak, kesadaran, dan pikiran). Tapi, lagi-lagi sejauh yang saya alami, kalau kita "melihat" lebih dekat proses berpikir kita dan memperlambat kilasan-kilasan itu, semuanya mewujud dalam bahasa. (Biar nggak kelihatan goblok-goblok banget, saya paksa-paksain nyari sedikit kutipan: Leonard Bloomfield, seorang linguis Amerika, bilang dalam bukunya yang masyhur Language, bahwa kita "berpikir menggunakan kata-kata".)

Nah, sampai di sini, mari kembali ke pertanyaan di mula tulisan ini: dalam bahasa apa Anda berpikir?

Tentang diri dan pikiran Anda, tentu Andalah yang lebih tahu. Tapi mengenai saya dan pikiran saya, saya bisa sedikit bercerita. Persoalan ini, yakni bahasa pikiran, biasanya muncul di benak saya setiap kali saya berpindah zona bahasa. Misalnya begini, beberapa tahun belakangan ini saya tinggal di Jogja. Sehari-hari saya menggunakan bahasa Jawa dan kadang bahasa Indonesia untuk urusan-urusan resmi di sekolahan. Nah, seminggu terakhir saya sedang pulang kampung ke sebuah desa di ujung timur pulau Jawa. Bahasa yang saya gunakan di sini adalah bahasa Madura (saya ini Madura swasta, mengutip seorang kawan untuk menyebut keturunan Madura yang lahir dan besar di luar Pulau Madura, berbeda dengan Madura negeri yang 100% made in Madura--ya, kurang lebih sama dengan pujakesuma lah: putra jawa kelahiran sumatera).

Saat berada di Jogja, saya jarang--kalaupun pernah--memperhatikan saya ini berpikir menggunakan bahasa apa. Tapi ketika saya beralih ke zona bahasa Madura di sini, saya jadi sadar bahwa di Jogja saya biasa berpikir menggunakan bahasa Jawa dan sedikit bahasa Indonesia (misalnya saat diskusi di kelas atau saat menulis). Buktinya, tiap pertama kali menginjakkan kaki di tanah kelahiran saya ini (ehmm..) saya merasa aneh, seperti ada jarak antara pikiran saya yang masih berbahasa Jawa dan sedikit Indonesia itu dengan omongan saya yang berbahasa Madura. Tentu jaraknya tidak terlalu lebar, juga tidak terlalu terasa. Setelah sehari atau dua, saya pun kembali terbiasa berpikir menggunakan bahasa madura lagi--kecuali saat menulis posting ini tentu saja, saya berpikir pakai bahasa Indonesia; kalau tidak, ini bisa jadi posting bahasa Madureh tak iyeh hehe...

Jarak semacam ini pastinya lebih terasa jika perpindahan zona bahasa terjadi ke bahasa yang tidak atau tidak terlalu kita kuasai. Sayangnya saya belum pernah ke luar negeri, tapi kira-kira orang Madura atau Jawa (yang tentu saja plus orang Indonesia) yang pergi, katakanlah, ke Inggris harus berusaha cukup keras untuk menyeberangi jarak antara pikirannya yang berbahasa "Jawa/Madura + Indonesia" dan omongannya yang berbahasa Inggris, sebelum akhirnya perlahan ia mulai berpikir dengan bahasa Inggris.

Pertanyaan selanjutnya, ketika seseorang cukup lama berada di suatu zona bahasa, biasa berpikir dengan bahasa itu, tak pernah atau jarang menggunakan bahasa ibu-nya, apakah dia akan melupakan bahasa asalnya itu dan tidak lagi mampu berpikir menggunakannya? Adakah, misalnya, seorang Madura yang lama di Arab dan tak pernah mempraktikkan bahasa Madura di sana, setelah pulang tak lagi bisa berbahasa Madura, atau setidaknya kikuk untuk berbahasa Madura?

Jawabannya saya tidak tahu; mungkin saja Anda yang tahu; siapa tahu hehe...

Nah, sekarang, dalam bahasa apakah Anda berpikir?

baca selengkapnya...
| 2 comments  
Labels: , ,

16.7.09

Kenapa Saya (baru sekarang akan) Berhenti Merokok

Sekarang saya masih seorang perokok. Tentu ini tak berarti saat menulis posting ini saya sedang merokok--seseorang toh disebut perokok bukan karena saat itu dia sedang merokok, tapi karena dia biasanya merokok. Dan hingga saat ini, saya biasanya memang merokok. Tapi saya akan segera berhenti menjadi perokok. Tulisan ini saya pajang di sini agar saya merasa seluruh dunia mengawasi ketaatan saya pada tulisan dan kata-kata saya sendiri--saya sebut "merasa" karena saya tak yakin benar ada yang membaca blog ini, ah, tapi yang penting kan perasaan. :)

Sudah banyak tulisan tentang berhenti merokok, mulai artikel ilmiah, imbauan, nasihat, hingga testimoni (salah satunya di sini). Anda bisa mendapatkannya di mana-mana. Lalu, kenapa mesti ada satu tulisan lagi? Ya nggak apa-apa 'kan. Lagi pula, ini sekadar tulisan iseng-iseng, bukan artikel ilmiah, ajakan, imbauan, atau nasihat. Tulisan ini terutama bukan tentang kenapa saya berhenti merokok, tapi perihal kenapa baru sekarang saya akan berhenti merokok. Saya akan bercerita mengenai alasan-alasan konyol, wagu tur kere macam apa yang saya gunakan selama ini untuk "membela" kebiasaan saya merokok.


Saya tak yakin betul kapan tepatnya pertama kali merokok. Samar-samar saya ingat menghisap asap tembakau perdana saat MTs (fyi. itu sekolah setingkat SMP). Saya sudah lupa seperti apa rasanya. Tapi saya menjadi perokok--merokok secara rutin dan menikmatinya--sejak pertengahan kelas satu MA (lagi-lagi fyi. itu sekolah setingkat SMA). Sejak itu saya menjadi perokok aktif dalam arti sebenarnya (aktif menghisap asap rokok sendiri, bukan penghisap pasif asap rokok orang lain, juga aktif membeli rokok sendiri, bukan pasif dan hanya minta rokok teman hehe..). Kalau dihitung-hitung, kurang lebih sudah sebelas tahun secara rutin saya memasok tar dan nikotin ke dalam tubuh. Meskipun rutin, tentu intensitas konsumsi rokok saya tak selalu sama, tergantung mood serta situasi dan kondisi keuangan.

Semula saya tak pernah benar-benar berpikir kenapa saya merokok. Saat itu, merokok bagi saya sama wajarnya dengan makan nasi dan membeli permen atau gorengan. Sejak kuliah baru saya mulai berpikir tentang hal itu ketika ada beberapa kawan yang bertanya "kenapa sih kamu ngerokok?" atau "apa sih enaknya ngerokok?" atau "apa sih untungnya ngerokok?". Tambahan lagi, saya sering terperangkap dalam obrolan sok-sok serius bersama beberapa kawan tentang pengaruh pencitraan iklan dan media terhadap persepsi orang--yang selalu mengambil contoh utama rokok, pernah membaca sebuah terbitan pers mahasiswa mengenai rokok, pernah melihat aksi kampanye antirokok yang diadakan mahasiswa-mahasiswa kedokteran lengkap dengan selebaran berisi gambar paru-paru yang jadi mengerikan--konon--karena rokok, pernah menjadi responden penelitian seorang teman tentang rokok, dan kerap membaca tulisan di koran dan di mana-mana mengenai bahaya rokok, bahkan sekali secara kebetulan ketemu artikel di jurnal ethics entah edisi berapa, yang sekarang cuma saya ingat judulnya: "the ethics of smoking".

Semua yang saya sebut tadi membuat saya kadang-kadang berpikir perihal rokok--tidak terlalu serius tentu saja--sebab, ya itu tadi, merokok tetap mirip-mirip makan nasi dan beli permen atau gorengan. Lha kok bisa? Begini ceritanya.

Biasanya, imbauan dan nasihat untuk berhenti merokok disertai alasan-alasan ini. Pertama, rokok merugikan kesehatan. Ya, rasanya semua orang sudah tahu hal ini, meski tak selalu percaya. Toh di bungkus-bungkus rokok yang resmi dan bercukai selalu ada tulisan: "Peringatan Pemerintah: Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin". Selain itu, di k
oran, tv, radio, poster, selebaran, situs web, dan entah di mana lagi, Anda bisa dengan mudah menemukan informasi mengenai bahaya rokok.

Mau tahu apa "kontra-argumen" saya untuk poin satu ini. Kita mulai dari yang sok filosofis dulu.

Segala sesuatu di dunia ini mengandung risiko. Bahkan hidup itu sendiri adalah risiko. Orang makan enak bisa kelebihan kolesterol; orang naik motor bisa jatuh atau tabrakan; lha orang jalan kaki itu lo, bisa kepleset! Jadi, kalau merokok menyebabkan penyakit, ya itu risikonya. Kalau Anda memang menikmati rokok, tahu risikonya, dan menurut Anda risikonya sepadan dengan kenikmatan yang Anda peroleh, apa salahnya? Ya, toh? (Seorang kawan yang tak kalah wagu tur kere dari saya kadang menambahkan: Masyarakat kontemporer yang ditandai globalisasi ini sering disebut risk society oleh para sosiolog; jadi, ya, pas.)

Bagaimana? Benar-benar nggak mutu 'kan? Ya, kecuali Anda memang mau bunuh diri karena tidak bisa membedakan jenis dan tingkatan risiko yang kadang bisa dikendalikan atau diminimalkan. Saya sendiri tidak tahu detailnya bagaimana rokok bisa merusak kesehatan. Saya bukan dokter dan tak pernah baca buku-buku kesehatan. Ada beberapa tetangga saya di desa yang sudah merokok sedari muda, dan setua itu masih kelihatan sehat-sehat saja. Tapi dalam penalaran awam saya, saya tahu merokok memang bisa mengganggu kesehatan karena kadang-kadang, kalau saya benar-benar kebanyakan merokok, saya batuk dan sesak nafas.

Mau yang lebih kere lagi? Jangan khawatir, masih ada. Inti kontra-argumen tadi, meskipun memang mencampu
r-adukkan berbagai jenis dan tingkatan risiko, sebenarnya adalah pada pilihan bebas individu. Saya ingat, dulu, di UKM (unit kegiatan mahasiswa) tempat saya biasa nongkrong pernah ada poster imbauan berhenti merokok lengkap dengan penjelasan bahayanya. Saya dan beberapa perokok lain iseng-iseng membuat poster saingan dan menempelkannya di sebelah poster antirokok itu. Kalau saya tak salah ingat begini poster yang digarap asal-asalan dengan corel draw itu:

Ada gambar bumi yang penuh sesak, lalu di sampingnya ada tulisan, "Dunia sudah terlalu penuh; sumberdaya alam tak lagi memadai untuk kita semua; jadi, relakan tempat Anda untuk orang lain. Bunuh dirilah dengan merokok!" Lalu di sudut kanan bawah poster kertas A4 itu tertera gambar rokok tanpa silang dengan tulisan kecil di bawahnya: "Komunitas Merokok untuk Kemanusiaan".

Barangk
ali Anda berpikir tak mungkin ada yang lebih kere tur wagu lagi. Anda salah. Masih ada! Seorang kawan yang sok-sok aktivis pergerakan (hehe... sori, Ton) pernah gojek kere begini:

"Yang seharusnya mengeluarkan peringatan soal rokok itu dokter, bukan pemerintah. Jadi, kalau di bungkus rokok ada peringatan pemerintah itu sifatnya politis, harus kita lawan!!!"

Jangan menyimpulkan dulu! Masih ada yang lebih parah. Kali ini malah bersifat seksual:

"Salah satu efek rokok, seperti tertera pada bungkusnya, adalah menyebabkan impotensi. Nah itu dia! Saya merokok untuk menormalkan diri. Kalau saya tidak merokok, bisa bahaya..."

Alasan kedua yang biasanya menyertai imbauan berhenti merokok adalah: rokok itu boros secara ekonomis. Daripada buat beli rokok--yang kalaupun tidak mematikan, sedikitnya tak jelas benar apa guna dan untungnya--mending uang yang tersedia digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat. Begitu kira-kira argumennya.

Tentang poin kedua ini saya teringat beberapa hal. Saya punya seorang kawan mantan perokok. Orangnya tidak neko-neko: tidak suka makan enak dan mahal, tidak suka belanja, tidak suka beli baju, dan belum menikah, apa lagi punya anak :) Di samping beberapa hal lain yang tidak semestinya di sebut di sini, kesukaannya hanya rokok. Suatu kali, saat berbincang soal rokok, dengan guyon dia berkata pada saya:

"Lah, senenganku ki muk siji kuwi, mosok gak oleh. Terus gajiku kae arep dinggo opo?" (Alah, kesukaanku kan cuma satu itu; masak nggak boleh. Terus gajiku mau dibuat apa?)

Untunglah dia sekarang sudah berhenti merokok meski--sayangnya--masih juga belum menikah.

Saya tahu--karena pernah nonton di tv--ada banyak kasus gizi buruk pada anak-anak disebabkan orangtuanya lebih memilih membeli rokok ketimbang membeli makanan untuk anak-anaknya. Ini tentu saja hal yang buruk dan tidak bertanggung jawab (don't try this at home!). Tapi tak enak rasanya menuliskan hal macam itu di posting gojek kere seperti ini.

Tapi aspek ekonomis merokok bukan soal menikah atau belum menikah, punya anak atau tidak punya anak. Saya teringat sebuah adegan lawakan--kalau tak salah--Srimulat yang duluuu sekali pernah saya tonton.

Seorang pasien sambil terbatuk-batuk masuk ke ruang praktik dokter. Setelah ngobrol sana-sini, tempelkan stetoskop sana-sini, sang dokter (D) bertanya, "Sudah berapa lama Bapak ngerokok?" Pasien (P) itu menjawab, "Kira-kira 25 tahun, Dok." D: "Sehari habis uang berapa?" P:"Ya, paling sedikit lima ribu." D: (sambil geleng-geleng) "Kalau uang yang Bapak pakai ngerokok sejak dulu dikumpulkan, Bapak pasti sudah punya sedan mewah seperti itu" (sambil menunjuk sebuah mobil yang kelihatan dari jendela ruang praktik). P: "Tapi, Dok, itu memang mobil saya."

Mungkin ada yang berpikir, asalkan kewajiban ekonomis sudah terpenuhi kenapa kita tidak boleh menikmati--termasuk dengan merokok--penghasilan yang kita dapat dengan kerja keras. Ya, tentu saja boleh. Tapi saya teringat sebuah tulisan Cak Nun, entah di mana saya membacanya. Saya lupa persisnya, ini saya kutip sekenanya saja:

Memelihara anjing memang boleh. Tapi, memelihara anak yatim bukan hanya boleh, tapi jauh lebih berguna dan mendapat pahala.

Halah... kok jadi serius.

Alasan ketiga yang juga biasanya disertakan dalam anjuran tidak merokok: merokok itu mengganggu dan merugikan orang lain. Untuk kasus orangtua perokok yang mengabaikan anak-anaknya demi rokok sudah saya singgung tadi. Namun, hal yang lazimnya dimaksudkan ketika menyebut perokok merugikan orang lain adalah "perokok pasif". Sebutan ini mengacu pada orang-orang di sekitar perokok yang turut mengisap asap rokok yang dihasilkannya. Konon risiko yang mereka tanggung lebih besar dari si perokok lho.

Untuk hal ini, bahkan sejak dulu, ketika saya belum berniat berhenti merokok pun saya sangat setuju. Karena itu saya tak pernah merokok di suatu tempat di mana ada orang lain sebelum minta izin (kalau dia menolak, saya tidak jadi merokok atau saya menjauh dulu untuk menghabiskan rokok) atau dia juga sama-sama perokok. Seingat saya, saya tak pernah merokok di kendaraan umum, di warung atau ruangan yang penuh orang, dan tempat-tempat sejenis.

Tapi ada juga orang yang dengan santai merokok di antara banyak orang bukan perokok tanpa meminta izin lebih dulu. Barangkali mereka berpikir, ah, jangan mentang-mentang nggak ngerokok dong. Hmmm... sungguh logika yang wagu dan ter.. la.. lu..

Alasan keempat yang juga kerap disebut adalah: rokok tidak baik menurut agama (fyi. agama saya Islam). Ada yang bilang makruh, ada juga yang bilang hukumnya haram. Tak perlu lah saya paparkan soal itu di sini. Pas ramai-ramainya fatwa MUI soal rokok kemarin sudah sangat banyak yang membahasnya.

Tentu masih ada alasan-alasan lain, macam kapitalisme industri rokok, penguasaan saham pabrik-pabrik rokok oleh pemodal asing, bla... bla.... Tapi kalau disebutkan semua, bisa terlalu panjang posting iseng-iseng ini. Ini pun sudah kepanjangan.

Secara pribadi, saya tetap menghormati orang-orang yang merokok--asal jangan merokok di tempat umum di mana ada orang yang bukan perokok. Meski begitu, harus ada upaya kelembagaan (oleh negara, misalnya) untuk secara bertahap mengurangi konsumsi rokok dan jumlah para perokok. Ada banyak tetek bengek yang bakal ramai diperdebatkan: lapangan kerja bagi petani tembakau dan karyawan pabrik rokok, sumbangan rokok untuk pendapatan negara, bla... bla... bla... tapi tentu saja itu semua di luar jangkauan tulisan iseng-iseng macam ini.

Jadi, karena saya masih kerasan hidup di planet yang sudah sangat sesak ini, dan meskipun tidak sangat ingin punya sedan mewah tapi juga tidak mau memelihara anjing (hubungane opo?), akhirnya saya memutuskan untuk tidak lagi menjadi perokok. Bungkus rokok terakhir saya, lengkap beserta koreknya, sudah saya buang, tapi tidak asbaknya--saya tak ingin kawan-kawan saya yang perokok mengotori lantai kamar saat berkunjung.

Oiya, dengar-dengar cukai rokok bakal naik. Harga rokoknya juga pasti naik. Selamat lah...

baca selengkapnya...
| 8 comments  
Labels: , ,

15.7.09

Spiderman Anak Saleh


Beberapa bulan yang lalu, saya nemu gambar ini di bagian belakang sebuah bus antarkota di perbatasan jogja-magelang.


baca selengkapnya...
| 0 comments  
Labels: , ,

Older Posts